Mengenal Kampung Korea, Destinasi Unik di Sulawesi Tenggara | Liputan 24 Sulawesi Tenggara
Public Speaking, Master of Ceremony
Public Speaking, Master of Ceremony
www.AlvinAdam.com

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Mengenal Kampung Korea, Destinasi Unik di Sulawesi Tenggara

Posted by On 9:54 AM

Mengenal Kampung Korea, Destinasi Unik di Sulawesi Tenggara

Kampung Korea
Mengenal Kampung Korea, Destinasi Unik di Sulawesi Tenggara

Terkini.id â€" Tahukah kalian, di Sulawesi terdapat sebuah kampung yang dikenal dengan sebutan Kampung Korea? Kampung Korea ini, tepatnya berada di provinsi Sulawesi Tenggara di daerah perbatasan kota Baubau dan kabupaten Buton, tepatnya di kecamatan Sorawolio, kelurahan Bugi dan Karya Baru.

Maka jangan heran, jika biasanya wisatawan ditanya soal destinasi wisata yang ada di Sulawesi Tenggara, jawabannya kini bukan hanya Pulau Wakatobi dan Benteng Keraton di Buton, namun juga ada Kampung Korea. Sebab kampung ini memang layak untuk dikunjungi dari keunikannya yang menggunakan aksara Hangeul khas Korea Selatan.

Sekitar 2 bulan yang lalu, kami dari beberapa jurusan di Universitas Hasanuddin, diberi kesempatan berkunjung ke kampung unik ini.

Perjalanan ke Kampung Korea, Sulawesi Tenggara

Perjalanan kami menuju Kampung Korea ini bisa dibilang cepat, hal ini tentunya jika dibandingkan harus ke Korea Selatan yang disertai syarat visa dan pasport yang akan menghabiskan waktu cukup lama untuk mengurusnya dan tentunya merogoh kocek yang tidak sedikit.

Perjalanan yang kami tempuh menghabiskan waktu kurang lebih 15 jam menggunakan kapal pesiar. Kami berangkat dari pelabuhan Pelindo Makassar menuju pelabuhan Murhum di Kota Baubau.

Sekalipun menghabiskan waktu hampir 1 hari, namun perjalanan ini hampir tidak terasa lamanya, sebab pemandangan laut hijau bersih dan suasana kapal pesiar menjadi penghibur tersendiri.

Baca :Garuda Indonesia membuka pintu pasar pariwisata di Muna Sultra

Sampai di Kampung Korea, kami langsung disuguhkan oleh pemandangan huruf-huruf yang asing untuk orang In donesia, sebab nama-nama jalan yang terpajang di plank jalan menggunakan aksara Hangeul.

Jika ditelisik lebih jauh, kampung Korea ini ditempati oleh penduduk asli suku Cia-cia. Dan, aksara Hangeul Korea Selatan ini, ternyata tak hanya digunakan di papan nama jalan, namun juga ditemui di papan nama sekolah, rumah-rumah penduduk, nama kantor, juga menjadi salah satu mata pelajaran di muatan lokal di kampung ini.

Ciri khas itulah yang menjadikan kampung suku Cia-cia ini terkenal oleh masyarakat lokal sebagai Kampung Korea.

Nama jalan di Kampung Korea, Sulawesi Tenggara

Les Bahasa Korea

Kekhasan keluruhan Bugi dan Karya Baru dengan Korea ini, juga menjadi peluang baru bagi pemuda-pemudanya yang membuka les bahasa Korea secara khusus. Dalam kunjungan kami, kami berkesempatan melihat proses bejalar mengajar di beberapa tempat les ini.

Di salah satu tempat les, kami dikejutkan oleh anak-anak seumuran SD yang sangat fasih menulis dengan aksara Hangeul Korea Selatan, termasuk menyanyikan lagu korea.

Pada kesempatan itu, mereka menyanyi dengan judul “Geum se mari”, bagi penggemar Korea, pasti tahu dengan lagu ini.

Selain mampu menuliskan bahasa lokalnya dengan huruf Hangeul, mereka juga bisa berbahasa Korea, bahkan tidak sedikit dari mereka yang fasih memperkenalkan diri menggunakan bahasa Korea.

Baca :ATR 72-600 Garuda Indonesia mendarat mulus di bandara Sugimanuru

Tepatnya pada 21 Juli 2009, atas kesepakatan Pemerintah Kota Baubau dengan lembaga riset Korea, huruf Hangeul resmi digunakan sebagai tulisan dari bahasa Cia-cia.

Sebelumnya suku Cia-cia ini menggunakan aksara Arab gundul. Tetapi dalam penggunaannya, terdapat ketidakselarasan yang menimbulkan kebingungan bagi penutur bahasa Cia-cia itu sendiri.

Setelah adanya penelitian dari Korea pada 2006, dari ha sil studi linguistik, bahasa Cia-cia memiliki kemiripan dengan bahasa Korea dalam beberapa “fonem”.

Hasil dari penelitian ini, menyimpulkan bahwa agar bahasa Cia-cia tetap eksis dan terjaga, perlu adanya huruf tersendiri dan diusulkanlah menggunakan aksara Hangeul.

Persoalan Kampung Korea

Perjalanan kami ke Kampung Korea, tidak asal kunjungan atau sekadar jalan-jalan biasa. Namun, mengamati persoalan yang menjadi tantangan terkini yang ada di daerah tersebut.

Beberapa persoalan di tempat ini telah kami rangkum, dan menjadi tantangan tersendiri bagi tim kami, yaitu Tim Cia-cia dari Universitas Hasanuddin yang beranggotakan saya sendiri Atikah (Mahasiswi Antropologi 2015 ), Ali Muhasan (Mahasiswa Akuntansi 2014), dan Muh Taufik (Ilmu Ekonomi 2016) di bawah bimbingan Dr Aini Indrijawati SE MSi Ak CA. untuk merancang blue print pengembangan pariwisata Kampung Korea Suku Cia-Cia melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitia n Sosial-Humaniora (PKM P-SH) 2018.

Baca :ATR 72-600 Garuda Indonesia mendarat mulus di bandara Sugimanuru

Sejauh pengamatan kami, brand “Kampung Korea” yang dimiliki suku Cia-cia belum mampu memberikan efek peningkatan kesejahteraan yang signifikan bagi masyarakat suku Cia-cia sendiri.

Hal itu dibuktikan dengan kualitas hidup masyarakat Cia-cia yang masih di bawah rata-rata, serta banyaknya masyarakat Suku Cia-cia yang memilih merantau dibanding yang menetap.

Tim Cia-cia Universitas Hasanuddin

Melalui blue print ini, kami berharap dapat menjadi batu loncatan bagi Kampung Korea suku Cia-cia sehingga mampu memberikan implikasi yang lebih besar bagi peningkatan lapangan pekerjaan dan ekonomi daerah.

Saya dan tim pun berharap penelitian ini dapat menjadi sumbangsih ide dan solusi kreatif bagi pemerintah Kota Bau bau maupun seluruh stake holder setempat untuk mampu mewujudkan Kampung Korea Suku Cia-cia sebagai Little Seoul sehingga dapat dikenal lebih luas oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Satu hal yang penting, penggunaan tulisan Korea bagi suku Cia-cia di pulau Buton ini, tentunya semakin menambah keragaman budaya di Indonesia.

Dari catatan ini, saya berharap pembaca bisa terinspirasi, atau menyumbangkan ide untuk kami, sehingga bisa ikut membantu dalam membangun Indonesia menjadi lebih hebat dan lebih maju dari sekarang. Semangat Indonesia.

Penulis : Atikah (Tim ciacia PKM P-SH Unhas 2018)

PenulisFachri DjamanSumber: Berita Sulawesi Tenggara

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »